Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas?
Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar?
Jika setiap doa kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar?
Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar Keikhlasan
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau
tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang Kemurahan hati
Tetap semangat…
Tetap sabar…
Tetap tersenyum...
Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan
Tuhan menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “kebetulan”
Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata.
Seorang filsuf yang hanya mempunyai sepasang sepatu minta tolong seorang
tukang sepatu untuk memperbaikinya, dan ia akan menunggu.
"Sekarang
sudah waktunya tutup," kata tukang sepatu itu. "Oleh karena itu saya
tidak dapat memperbaikinya sekarang. Mengapa engkau tidak datang besok
pagi saja?"
"Saya hanya mempunyai sepasang sepatu ini, dan saya tidak dapat berjalan tanpa sepatu."
"Baik, untuk sementara engkau saya pinjami sepatu."
"Apa? Memakai sepatu orang lain? Kau anggap apa saya ini?"
"Mengapa
engkau menolak menggunakan sepatu orang lain di kakimu kalau engkau
begitu saja membawa pikiran-pikiran orang lain di kepalamu?"
Pagi itu seorang anak buta
duduk di depan sebuah gedung perkantoran dengan tangan memegang topi sambil
menengadahkannya memohon belas kasihan. Di sebelah anak kecil tersebut terdapat
sebuah papan dengan tulisan, “Saya buta, tolonglah saya.” Dan terdapat beberapa
buah koin rupiah yang berhasil dikumpulkannya.
Sesaat kemudian tampak
seorang pria berjalan lewat di depan anak tersebut. Tiba-tiba dia berhenti dan merogoh sakunya serta mengambil satu lembar uang dan
meletakkannya di dalam topi tersebut. Kemudian ia mengambil papan tulisan
tersebut, menghapusnya dan menuliskan sebuah kalimat lain. Lalu ia
meletakkannya kembali di tempat semula di samping anak buta tersebut agar
setiap orang yang melewati anak tersebut dapat melihat dan membaca tulisan
tersebut dengan jelas.
Tak lama
setelah itu, tampak topi yang dipegang anak buta tersebut mulai banyak terisi.
Hampir setiap orang yang lewat berhenti dan memberi anak buta tersebut uang.
Saat
sore tiba, lelaki yang merubah tulisan tersebut kembali melintas di depan anak
tersebut. Si anak yang mengenal langkah kaki tersebut berusaha menghentikan dan
bertanya, “Bukankan Anda yang telah mengubah tulisan di papan ini tadi pagi?
Apa yang Anda tulis?”
Lelaki
tersebut menjawab, “Saya menulis sebuah kenyataan, saya menulis apa yang kamu
tulis tapi dengan cara berbeda.”
Lelaki
tersebut menulis: “Hari ini sangat indah dan saya tidak bisa melihatnya.” (Unknown - taken from kisah-renungan.blogspot.com)
Sepasang
suami istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka
barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil
menggumam, ”Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”
Ternyata,
salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget
bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, ”Ada
perangkap tikus di rumah! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!”
Ia
mendatangi ayam dan berteriak, “Ada perangkap tikus!”
Sang
Ayam berkata, “Tuan Tikus, aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh
terhadap diriku.”
Sang
Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata,
“Aku turut bersimpati… Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.”
Tikus
lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ”Maafkan aku, tapi perangkap tikus
tidak berbahaya buat aku sama sekali.”
Ia
lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Sang ular berkata, “Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku.”
Akhirnya
Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi
bahaya sendiri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras
perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat
perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa.
Buntut ular yang terperangkap
membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang suami
sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang
suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh
pulang, namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta
dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya, karena sop ceker ayam konon sangat bermanfaat
buat mengurangi demam.
Suaminya
dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari
kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan
hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih,
istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak
sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih
sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan… Sang Tikus
menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Suatu
hari, ketika Anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan
urusan Anda, pikirkanlah sekali lagi (Unknown).
Suatu
ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga
ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang
daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula
pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu
terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang
bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu."Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon
apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang.... tetapi kau boleh
mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk
membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali
sedih.
Suatu
hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak
punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?" Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang
semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian
anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi
dengan gembira.
Pohon
apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki
itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada
suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat
bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata
pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua
dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau
memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh,
maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kamu mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah. "Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel
itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah
lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya,
anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf
anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu."
"Tak
apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab
anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau
panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk
itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa
lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah
tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh,
bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk
berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan
beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan
akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan
air matanya.
Pohon
apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main
dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka,
dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak
peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang
bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa
anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah
cara kita memperlakukan orang tua kita. Dan, yang terpenting: cintailah orang
tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita
(Unknown).
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar.Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal yang memalukan.
Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku melemparkan muka dengan rasa benci dan berlari. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.
Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibuku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik bahwa aku telah mengatakan apa yang telah ingin aku katakan selama ini.
Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis di sana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hatiku.
Meskipun begitu, aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku mengatakan pada diriku, aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satuku dan kemiskinan kami.
Lalu aku belajar dengan keras. Aku meninggalkan ibu dan ke Seoul untuk belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala kepercayaan diri. Lalu, aku menikah. Aku membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses. Aku suka hidupku yang sekarang karena tidak mengingatkan aku akan Ibu.
Kebahagiaan ini menjadi besar dan semakin besar, sampai seseorang tidak terduga menjumpai aku. “Apa?! Siapa ini?" Ini adalah Ibuku, tetap dengan satu matanya. Rasanya seperti seluruh langit sedang jatuh ke diriku. Anak perempuanku lari kabur, takut akan mata ibuku.
Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” sandiwaraku. Aku berteriak kepadanya, “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anakku! Pergi dari sini sekarang juga!”
Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. Aku pasti salah alamat,” dan dia menghilang. Terima kasih Tuhan. Ia tidak mengenali aku. Aku merasa cukup lega. Aku mengatakan kepada diriku bahwa aku tidak akan peduli, atau berpikir tentang ini sepanjang sisa hidupku.Lalu ada perasaan lega datang kepadaku.
Suatu hari, sebuah surat mengenai reuni sekolah datang ke rumahku. Aku berbohong kepada istriku. Aku mengatakan bahwa aku akan pergi perjalanan bisnis. Setelah reuni ini, aku pergi ke rumah lamaku, karena rasa penasaran saja. Aku menemukan Ibuku terjatuh di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak meneteskan satu air mata sekalipun. Ia memiliki sepotong kertas di tangannya, dan itu adalah surat untuk diriku.
Anakku,
Aku pikir hidupku sudah cukup lama saat ini. Dan... aku tidak akan mengunjungi Seoul lagi. Tetapi apakah itu terlau banyak jikalau aku ingin kamu untuk datang mengunjungiku sekali-kali nak? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang dalam reuni ini.
Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah. Untuk Kamu... aku meminta maaf jikalau aku hanya memiliki satu mata dan aku hanya membawa malu bagi dirimu.
Kamu tahu, ketika kamu masih sangat kecil, kamu terkena sebuah kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata. Maka aku memberikanmu mataku. Aku sangat bangga kepada anakku yang melihat dunia yang baru untukku, menggantikan aku, dengan mata itu.
Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali ketika kamu marah kepadaku. Aku berpikir sendiri, ”Ini karena kamu mencintai aku.” Aku rindu waktu ketika kamu masih sangat kecil dan berada di sekitarku.
Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.(Unknown)
Dear Heart, tahukah kamu? Harapan itu datang ketika ia baru saja memutuskan untuk menyerah
Ia ingin berhenti, ingin akhiri Karena ia tahu semua ini hanya mimpi
Tapi kemudian ia putuskan untuk jalani Ia memilih untuk terjatuh sekali lagi Ia rela... Meski nanti ia harus kembali belajar berdiri, seorang diri. (Irin Sintriana)
Seorang anak lelaki datang ke lelang sepeda yang diselenggarakan di kantor polisi. Sepeda-sepeda yang dilelang adalah yang ditemukan di jalan dan tidak ada yang datang untuk mengakuinya sebagai pemilik.
Setiap kali juru lelang membuka penawaran baru, anak itu berkata, “Saya menawar satu dolar, Pak.” Tetapi ada orang yang menawarkan lebih tinggi, sehingga akhirnya setiap sepeda yang dilelang jatuh ke tangan orang yang menawar dengan harga tertinggi. Dan setiap kali, anak itu selalu ikut menawar satu dolar. Ketika sepeda terakhir yang akan dilelang dibawa ke depan, anak itu berseru, “Saya menawar satu dolar, Pak.” Penawaran naik terus dan akhirnya juru lelang mengetukkan palu pada tawaran harga sembilan dolar. Ia menunjuk ke arah anak lelaki itu yang duduk di barisan paling depan, sebagai isyarat bahwa anak itulah pemenangnya.
Kemudian juru lelang merongoh sakunya, mengambil uang sebanyak delapan dolar dan meletakkannya di atas meja. Anak itu maju, meletakkan satu dolarnya dalam bentuk recehan di samping delapan dolar tadi, mengambil sepeda barunya lalu berbalik badan hendak ke luar. Tiba-tiba diletakkannya sepeda, lalu berbalik dan lari mendatangi juru lelang. Dirangkulnya orang itu lalu ia menangis (Elder Featherstone)
Waktu itu tahun 1933. Aku baru saja diberhentikan dari pekerjaan paruh-waktuku, sehingga tidak bisa lagi ikut memberikan sumbangan bagi nafkah keluarga. Satu-satunya pemasukan kami adalah yang dapat diperoleh Ibu dengan menjahit pakaian orang. Kemudian Ibu jatuh sakit selama beberapa minggu sehingga tidak mampu bekerja. Aliran listrik rumah diputuskan oleh perusahaan listrik karena kami tidak membayar rekening. Lalu perusahaan gas memberhentikan aliran gas. Selanjutnya perusahaan air minum. Tetapi Dinas Kesehatan menyuruh perusahaan itu mengalirkan air lagi atas pertimbangan kesehatan. Lemari makan kami hampir tidak pernah ada isinya lagi. Kami mempunyai kebun sayuran dan dapat memasak sebagian dari hasilnya dengan menggunakan api unggun di pekarangan belakang.
Lalu pada suatu hari adik perempuanku datang sambil meloncat-loncat, pulang dari sekolah. Ia berkata, “Besok kami disuruh membawa sesuatu ke sekolah untuk diberikan kepada orang miskin.”
Ibu langsung mengatakan, “Ibu tidak tahu siapa yang masih lebih miskin daripada kita,” ketika Nenek, yang waktu itu tinggal bersama kami, memegang tangannya sambil mengerutkan kening, untuk menyuruh Ibu diam.
“Eva,” kata Nenek, “jika kau membuat anakmu merasa bahwa ia ‘orang miskin’ pada umur semuda itu, maka ia akan menjadi ‘orang miskin’ seumur hidup. Di dalam lemari makan masih ada botol selai buatan kita sendiri. Itu bisa dibawanya ke sekolah besok.”
Nenek menemukan selembar kertas tisu dan sepotong pita biru. Dengan bahan-bahan itu dibungkusnya botol selai dan keesokan harinya adikku pergi dengan bangga ke sekolah, membawa ‘hadiah untuk orang miskin’. Setelah itu, bila ada masalah di lingkungannya, ia menganggap bahwa sudah sewajarnya ia mengambil bagian dalam penyelesaiannya (Edgar Bledsoe – A Cup of Chicken Soup for the Soul)
Kemenangan bukanlah hanya ketika kita berhasil mengalahkan lawan di suatu pertandingan. Dan bukan hanya ketika kita berhasil mencapai prestasi terbaik. Bahkan, bukan hanya ketika kita berhasil mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup ini. Tapi, kemenangan adalah saat di mana kita dapat melawan suatu kegagalan. Saat di mana kita dapat mengatasi musibah. Saat di mana kita dapat bangkit dari suatu keadaan yang menyedihkan. Dan, saat di mana kita merasa sangat terpuruk namun kita mampu berjuang menghancurkan semua cobaan itu (taken from Iphincow.wp.com).
Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan anda. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa anda tak akan pernah bisa berhenti. Meski anda berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Bekerja memberi kebahagiaan diri. Itulah yang diharapkan oleh alam dari anda.
Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini; Jangan berhenti berkarya, atau anda segera menjadi tua dan tak berguna (taken from Iphincow.wp.com).