Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Desember 2013

RINDU


  
Terima kasih sudah meminjamiku rindu 
Menemaniku melewati hari-hari tanpamu

Irin Sintriana

Selasa, 03 Desember 2013

TENTANG KITA



Ponselku berbunyi. Aku tertegun membaca sebaris pesan, yang telah kunanti bertahun namun tak kunjung datang. 

Aku rindu kamu.

Mataku mengerjap, menahan tangis bahagia yang membuat dadaku terasa sesak sehingga aku sulit bernapas.

Apa kabar kamu? 

Tak pernah merasa baik sejak tak ada lagi kamu... 
  Balasmu.

Air mata jatuh tanpa sempat kucegah. Punggung tanganku bergerak cepat menghapusnya, berganti tawa yang bahkan aku lupa pernah memilikinya. 

Aku rindu kamu. 
Terlalu penuh, hingga tak lagi menyisakan ruang untuk mengingat luka.
Kataku.
  
 Kamu tertegun.

Ternyata, waktu tidak membawa hati kita ke mana-mana, ya?
 
Air mataku kembali jatuh, namun kali ini, hatiku tersenyum.


Irin Sintriana

Minggu, 01 September 2013

AKU. RINDU. KAMU.



Aku. Rindu. Kamu.

Biarkan aku menambahkan tanda baca titik di setiap kata yang ada.
Menjadikannya kata bukan lagi kalimat yang selalu menggema di mana-mana:
Serupa rinduku yang tak seharusnya ada.
 

Irin Sintriana

Selasa, 30 Juli 2013

MUNGKIN KAMU





Ada yang mengetuk-ngetuk hatiku
Mungkin itu rindu
Mungkin itu kenangan lalu
Mungkin itu kamu.

(Irin Sintriana)

Kamis, 02 Mei 2013

PERKARA WAKTU


Mungkin ini hanya perkara waktu.
Hingga akhirnya, rindu kan gugur satu-satu.
(Irin Sintriana)



Kamis, 05 Januari 2012

TENTANG RINDU (II)


Izinkan aku hari ini, sekali ini saja, membiarkan rindu menyapa. Mencintaimu sekali lagi, memelukmu dalam imaji.


Kau lukis pelangi hingga membuatku mengerti, kau pernah ada untuk membuatku bahagia.


Aku rindu senyummu. Rindu pelukmu. Rindu tawaku bersamamu. Dan terlalu cepat bagimu untuk pergi, meninggalkanku dengan rindu yang tak akan pernah mampu kubendung seorang diri. Aku membutuhkanmu di sini.


"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu," ucapmu di senja itu sembari menggenggam erat jemariku. Andai waktu mau sedikit saja memaku, akan kukatakan bahwa aku telah lama tahu…


Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu. Namun tak mungkin untuk mengharapmu kini ada di sini bersamaku. Selayaknya malam yang tak pernah mungkin mendatangi pagi, kau telah pergi dan tak akan pernah kembali.


Percayalah bahwa aku mengerti. Meski tak mungkin lagi ragamu ada di sini, hatimu tak pernah mati. (Irin Sintriana)